KlikSiber.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat rangkaian kejadian bencana hidrometeorologi basah yang melanda berbagai wilayah Indonesia dalam periode Jumat (6/2) hingga Sabtu (7/2) pukul 07.00 WIB. Curah hujan tinggi yang mengguyur sejumlah daerah memicu tanah longsor, tanah bergerak, hingga banjir yang berdampak signifikan terhadap keselamatan warga serta infrastruktur.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Salah satu kejadian tanah longsor terjadi di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Jojogan, Kecamatan Watukumpul. Hujan deras yang turun sejak sore hari menyebabkan runtuhnya tebing di belakang rumah warga pada pukul 16.30 WIB. Material longsoran berupa tanah dan bebatuan menimpa satu unit rumah, mengakibatkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka. Tiga jiwa dalam satu keluarga terdampak langsung oleh peristiwa ini.

BPBD Kabupaten Pemalang bersama aparat desa, relawan, serta masyarakat setempat bergerak cepat melakukan koordinasi dan pendataan. Hingga laporan terakhir, rumah terdampak masih tertimbun material longsor dan lokasi kejadian terus dipantau untuk mengantisipasi kemungkinan longsor susulan.

Sementara itu, longsor juga terjadi di area pertambangan timah di Kecamatan Pemali, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Kejadian yang dipicu hujan lebat berkepanjangan ini menelan korban jiwa cukup besar, dengan enam orang dinyatakan meninggal dunia, satu orang masih dalam pencarian, dan empat lainnya selamat. Kondisi medan yang sulit serta meluapnya air sungai memperlambat proses evakuasi awal. Tim gabungan dari BPBD, Basarnas, dan unsur terkait terus melakukan pencarian menggunakan alat berat dan personel SAR.

Di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, berdampak luas terhadap permukiman dan fasilitas umum. Data sementara mencatat sebanyak 464 unit rumah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan beragam, mulai dari rusak ringan hingga rusak berat. Selain itu, 36 fasilitas umum turut terdampak, termasuk akses jalan, jembatan, dan bendungan irigasi.

Jumlah pengungsi di wilayah tersebut mencapai 2.425 jiwa dari 590 kepala keluarga, ditambah 526 santri yang tersebar di enam titik pengungsian. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari dan memprioritaskan upaya evakuasi, penyediaan logistik, layanan kesehatan, serta pemenuhan air bersih.

BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana, untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi. Masyarakat diminta segera melaporkan tanda-tanda awal bencana seperti retakan tanah, pergerakan lereng, serta peningkatan debit air sungai. Langkah kesiapsiagaan dinilai menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak bencana di tengah intensitas hujan yang masih tinggi.