KlikSiber.com – Bagi Anda pemburu kuliner yang merindukan suasana tenang dan bersahaja khas Yogyakarta, kini tidak perlu jauh-jauh melintasi perbatasan provinsi. Di ujung selatan Kabupaten Lamongan, tepatnya di Desa Sumbersari, Kecamatan Sambeng, berdiri sebuah oase kuliner bernama Pendopo Literasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tempat ini menawarkan perpaduan sempurna antara kelezatan otentik olahan kambing muda dan atmosfer pedesaan yang kental dengan memori masa lalu.

Begitu menginjakkan kaki di area ini, pengunjung seolah diputar kembali ke dimensi waktu yang berbeda. Bangunan Joglo yang megah namun hangat, ditambah deretan gazebo yang dikelilingi taman asri, menghadirkan kesan “adem ayem dan tentrem”.

Kreativitas juga tampak menonjol di sini, pemanfaatan galon bekas yang disulap menjadi pot bunga berbentuk hewan menjadi sentuhan edukatif yang ramah bagi anak-anak.

Kelembutan Daging “Cempe” yang Memanjakan Lidah

Daya tarik utama dari sisi gastronomi di Pendopo Literasi adalah sajian Sate Klatak, Tengkleng, dan Tongseng. Berbeda dengan warung sate pada umumnya, tekstur daging di sini dikenal sangat empuk dan tidak prengus. Rahasianya terletak pada pemilihan bahan baku utama, yakni kambing muda atau yang dalam istilah lokal disebut cempe.

Pemilik Pendopo Literasi, Tommi Distianto, menjelaskan bahwa usaha kuliner ini menerapkan konsep farm-to-table yang terintegrasi.

“Daging yang kami sajikan berasal dari ternak kami sendiri. Kami memiliki Koperasi Tani Ternak (Literasi) dan unit usaha Edufarm. Jadi, kambing yang disembelih adalah hasil peliharaan sendiri, sehingga kualitas dan kesegaran dagingnya sangat terjaga,” ujar Tommi.

Selain kualitas rasa, harga yang ditawarkan pun sangat kompetitif. Untuk menu satuan, pengunjung bisa menikmati lauk mulai dari Rp5.000, sementara olahan kambing dan sapi seperti sate klatak, gule, dan rawon dibanderol antara Rp20.000 hingga Rp25.000. Tersedia juga paket rombongan mulai dari Rp75.000 untuk dua orang hingga paket besar Rp300.000 untuk delapan orang.

Inspirasi Pemberdayaan dari Sosok Magister

Pendopo Literasi bukan sekadar tempat makan, melainkan simbol perlawanan terhadap keterbatasan desa. Sosok di baliknya, Tommi Distianto, adalah seorang Magister Pendidikan yang memilih pulang kampung demi mengembangkan potensi lokal. Ia berhasil mendobrak pola pikir konvensional warga desa melalui integrasi peternakan, pertanian, dan pariwisata.

“Awalnya memang penuh perjuangan dan jatuh bangun. Namun, kini konsep ini berkembang pesat karena terintegrasi dengan kebutuhan dunia pendidikan melalui program outclass. Jadi, antara unit usaha peternakan dan kuliner ini saling menopang,” urai Tommi.

Kesuksesan Pendopo Literasi membuktikan bahwa dengan literasi dan kreativitas, potensi desa yang terpencil sekalipun dapat diubah menjadi destinasi unggulan yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.

Bagi Anda yang ingin menikmati sensasi makan sate klatak ditemani semilir angin pedesaan yang menenangkan, Pendopo Literasi adalah tujuan yang tak boleh dilewatkan.