KlikSiber.com – Tradisi berburu takjil kembali menghidupkan suasana Ramadan di Alun-Alun Nganjuk. Setiap sore menjelang waktu berbuka puasa, kawasan ruang terbuka hijau yang berada di jantung Kota Nganjuk ini dipadati warga dari berbagai kalangan. Keramaian tersebut menciptakan atmosfer khas Ramadan yang penuh semangat, kebersamaan, dan kehangatan sosial.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sejak pertengahan sore, ratusan pedagang mulai menggelar lapak di sepanjang sisi alun-alun. Beragam jajanan tradisional hingga kuliner kekinian tersaji lengkap untuk memenuhi selera masyarakat. Aneka gorengan, klepon, lumpia basah, gado-gado mini, bakso bakar, hingga nasi bungkus praktis menjadi menu favorit. Tak ketinggalan, minuman segar seperti es cendol dawet, es buah, dan es campur turut menjadi buruan utama pengunjung untuk melepas dahaga setelah seharian berpuasa.

Harga yang terjangkau menjadi daya tarik tersendiri. Dengan kisaran harga mulai dari Rp3.000 hingga Rp20.000, masyarakat dapat menikmati berbagai pilihan takjil tanpa harus menguras kantong. Kondisi ini membuat Alun-Alun Nganjuk selalu ramai dikunjungi, tidak hanya oleh warga sekitar, tetapi juga masyarakat dari kecamatan lain yang sengaja datang untuk merasakan suasana berburu takjil di pusat kota.

Salah satu pengunjung, Salsa, mengaku tradisi berburu takjil di alun-alun telah menjadi agenda rutin keluarganya setiap Ramadan. Selain mencari hidangan berbuka, ia memanfaatkan momen ini untuk mengajak anak-anak berjalan-jalan dan menikmati suasana sore.

“Setiap hari kami sempatkan ke sini. Anak-anak senang karena bisa memilih sendiri jajanan yang mereka suka,” tuturnya.

Para pedagang pun merasakan dampak positif dari tingginya antusiasme masyarakat. Harty, pedagang jajanan tradisional yang telah berjualan lebih dari lima tahun, menyebutkan omzetnya meningkat signifikan selama Ramadan. Ia bahkan harus menambah stok dan variasi menu agar dapat memenuhi permintaan pembeli.

“Biasanya semua dagangan habis sebelum magrib. Ramadan benar-benar membawa berkah bagi kami,” katanya.

Tak hanya berdampak pada sektor ekonomi, aktivitas di Alun-Alun Nganjuk juga mempererat interaksi sosial antarwarga. Banyak pengunjung yang saling bertegur sapa, bertukar kabar, hingga menunggu waktu berbuka bersama. Suasana kekeluargaan semakin terasa ketika azan magrib berkumandang dan para pengunjung serentak menyantap hidangan yang telah dibeli.

Beberapa pedagang bahkan menyisihkan sebagian dagangannya untuk dibagikan kepada warga kurang mampu. Aksi berbagi ini menjadi cerminan semangat solidaritas yang tumbuh subur selama bulan suci Ramadan.

Dengan semarak aktivitas tersebut, tradisi berburu takjil di Alun-Alun Nganjuk tidak hanya menghadirkan keramaian, tetapi juga menghidupkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi. Alun-alun pun kembali menegaskan perannya sebagai pusat aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat selama Ramadan, sekaligus menjadi ruang publik yang merekatkan hubungan antarwarga.