KlikSiber.com – Kondisi wahana bianglala di Alun-Alun Kota Batu yang mangkrak sejak Desember 2022 kini menjadi sorotan serius kalangan legislatif. Setelah dua tahun tidak beroperasi, perhatian tidak lagi sebatas pada aspek estetika dan potensi ekonomi yang hilang, melainkan telah bergeser pada isu utama, yakni keselamatan publik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Didik Machmud, menegaskan pentingnya langkah cepat dari Pemerintah Kota Batu untuk melakukan audit konstruksi secara menyeluruh terhadap wahana tersebut. Menurutnya, kondisi bianglala yang terus terpapar cuaca ekstrem khas wilayah pegunungan berpotensi mengalami korosi dan penurunan kualitas struktur, khususnya pada material besi.

“Audit konstruksi harus segera dilakukan, terutama untuk memastikan kekuatan struktur yang rentan terhadap kelelahan material atau fatigue. Ini bukan lagi soal estetika, tapi menyangkut keselamatan masyarakat,” ujar Didik, Jumat (1/5/2026).

Ia menilai, keberadaan bianglala yang berada di pusat keramaian kota menjadikan potensi risiko semakin besar. Setiap hari, kawasan alun-alun dipadati warga dan wisatawan, sehingga apabila terjadi kegagalan struktur, dampaknya bisa sangat fatal.

Didik juga mengkritisi lambannya penanganan akibat terhambat proses administratif, khususnya terkait penilaian aset oleh Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL). Menurutnya, proses tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan teknis yang bersifat mendesak.

“Pemerintah tidak perlu menunggu proses lelang atau administrasi selesai. Pemeriksaan teknis bisa dan harus dilakukan segera sebagai langkah preventif. Jangan sampai kita bertindak setelah terjadi insiden,” tegasnya.

Lebih lanjut, Didik membuka kemungkinan opsi pembongkaran apabila hasil audit menunjukkan kondisi struktur tidak lagi layak. Ia menilai, keputusan tersebut memang berat, namun menjadi pilihan rasional jika risiko keselamatan sudah tidak dapat ditoleransi.

“Kalau memang sudah tidak layak dan biaya perbaikan terlalu besar dibandingkan manfaatnya, maka pembongkaran adalah opsi terbaik. Keselamatan publik adalah harga mati,” imbuhnya.

Selain aspek keamanan, mangkraknya bianglala juga berdampak pada sektor pariwisata dan perekonomian lokal. Sebelumnya, wahana tersebut menjadi salah satu ikon wisata keluarga di Kota Batu yang mampu menarik pengunjung serta menggerakkan aktivitas ekonomi pedagang di sekitar alun-alun.

Kini, bianglala yang dahulu menjadi simbol keceriaan dan daya tarik wisata justru berubah menjadi struktur terbengkalai. Kondisi ini dinilai tidak hanya merusak wajah kota, tetapi juga mengurangi nilai estetika kawasan publik yang menjadi pusat aktivitas masyarakat.

DPRD Kota Batu berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, baik melalui revitalisasi maupun keputusan tegas terkait masa depan wahana tersebut. Kejelasan arah kebijakan dinilai penting agar tidak terjadi pembiaran berkepanjangan yang berpotensi menimbulkan risiko lebih besar.

Dengan meningkatnya perhatian terhadap isu ini, publik kini menanti langkah nyata dari Pemerintah Kota Batu untuk memastikan bahwa keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pembangunan dan pengelolaan fasilitas umum.