KlikSiber.com – Perubahan lanskap pendidikan tinggi hari ini tidak lagi bisa dibaca dengan kacamata lama. Dunia kampus tidak sedang baik-baik saja jika hanya bertahan pada rutinitas tridarma perguruan tinggi yang dijalankan secara administratif dan normatif.
Mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat memang tetap menjadi fondasi utama, tetapi fondasi saja tidak cukup untuk menopang bangunan besar bernama keberlanjutan institusi dan karir dosen. Di sinilah urgensi pancadarma hadir sebagai keniscayaan baru, dengan satu dimensi penting yang selama ini sering dihindari, bahkan dianggap tabu di dunia akademik: jiwa marketing dan personal branding dosen.
Realitasnya sederhana namun keras. Program studi tanpa mahasiswa adalah ruang hampa. Tidak ada kelas, tidak ada proses pembelajaran, tidak ada interaksi akademik yang hidup. Pada titik ekstrem, dosen tidak lagi berbicara tentang idealisme tridarma, melainkan tentang reposisi, mutasi lintas prodi, atau bahkan pensiun dini. Ini bukan ancaman, melainkan konsekuensi logis dari sistem pendidikan tinggi yang semakin kompetitif, terbuka, dan dipengaruhi mekanisme pasar. Maka, mempertahankan eksistensi program studi dan dosen tidak cukup hanya dengan “bekerja baik”, tetapi juga dengan “terlihat bernilai” di mata publik.
Mahasiswa hari ini hidup di era persepsi, citra, dan kecepatan informasi. Pola pikir mereka telah bergeser secara drastis dibandingkan satu atau dua dekade lalu. Jika dahulu kampus dipilih karena reputasi alumninya, karena cerita sukses lulusan yang tersebar dari mulut ke mulut, kini kampus dipilih karena nama besarnya, popularitasnya di media, dan seberapa sering ia muncul di ruang digital. Branding institusi menjadi pintu pertama, bahkan sebelum kualitas substansi dipertimbangkan lebih jauh. Ini realitas yang tidak bisa disangkal, betapapun pahitnya bagi kalangan akademisi yang idealis.
Di sinilah posisi dosen menjadi sangat strategis. Dosen tidak lagi cukup menjadi “aktor belakang layar” yang bekerja dalam sunyi, tetapi harus berani tampil sebagai wajah institusi, sebagai representasi nilai, kompetensi, dan masa depan kampus. Personal branding dosen bukanlah narsisme akademik, melainkan strategi keberlanjutan. Ketika dosen dikenal publik melalui gagasan, karya, keahlian, dan kontribusinya, maka prodi dan kampus ikut terangkat reputasinya. Mahasiswa tidak hanya mendaftar ke institusi, tetapi juga kepada figur-figur akademik yang mereka percaya mampu membimbing masa depan mereka.
Sayangnya, dunia pendidikan tinggi di Indonesia masih sering alergi terhadap kata marketing. Marketing kerap disalahpahami sebagai aktivitas menjual tanpa nilai, padahal dalam konteks akademik, marketing adalah proses mengomunikasikan nilai. Jika dosen memiliki keilmuan yang kuat, riset yang relevan, dan pengabdian yang berdampak, maka marketing adalah jembatan agar nilai-nilai itu diketahui, dipercaya, dan dipilih oleh masyarakat. Tanpa jembatan tersebut, kualitas hanya akan menjadi arsip, bukan daya tarik.
Kondisi ini diperparah oleh kebijakan pendidikan tinggi yang dalam beberapa tahun terakhir cenderung menekankan kuantitas penerimaan mahasiswa. Banyak perguruan tinggi negeri berlomba mengejar angka, membuka kelas besar, dan memperluas daya tampung tanpa diimbangi pemerataan kualitas dan relevansi. Dampaknya tidak sederhana.
Perguruan tinggi swasta, yang selama ini menjadi tulang punggung akses pendidikan di daerah, justru terdesak dan satu per satu gulung tikar. Bukan karena tidak berkualitas, tetapi karena kalah dalam persepsi dan daya saing branding.
Dalam situasi seperti ini, dosen PTS tidak punya pilihan selain beradaptasi. Loyalitas pada institusi tetap penting, tetapi loyalitas tanpa strategi hanya akan berujung pada kelelahan struktural. Dosen harus memiliki jiwa kewirausahaan akademik, kemampuan membaca pasar pendidikan, dan kecakapan membangun jejaring.
Personal branding menjadi alat untuk bertahan sekaligus berkembang. Menulis di media, aktif dalam diskusi publik, membangun kehadiran digital yang berisi, serta menunjukkan kepakaran secara konsisten adalah bagian dari tugas baru dosen abad ke-21.
Pancadarma perguruan tinggi, dengan tambahan dimensi personal branding dan marketing akademik, bukanlah pengkhianatan terhadap nilai-nilai keilmuan. Justru sebaliknya, ia adalah upaya menyelamatkan nilai tersebut agar tidak tenggelam dalam kebisingan informasi. Kampus yang besar bukan hanya kampus yang memiliki gedung megah atau jumlah mahasiswa ribuan, tetapi kampus yang memiliki dosen-dosen berkarakter kuat, dikenal publik, dan dipercaya masyarakat.
Kita harus jujur mengakui bahwa mahasiswa hari ini memilih dengan cara yang berbeda. Mereka mencari kampus yang “terlihat menjanjikan”, yang narasinya kuat, yang figur-figurnya inspiratif. Jika dosen menutup diri dari ruang publik, maka ruang itu akan diisi oleh pihak lain yang belum tentu memiliki kompetensi akademik yang memadai. Akibatnya, pendidikan tinggi kehilangan otoritas moral dan intelektualnya di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, transformasi pola pikir dosen menjadi keharusan, bukan pilihan. Dari sekadar pelaksana tridarma menjadi penggerak pancadarma. Dari pekerja akademik menjadi duta intelektual. Dari pengajar di kelas menjadi opinion leader di ruang publik. Jika dosen kuat, prodi akan hidup. Jika prodi hidup, kampus akan bertahan. Dan jika kampus bertahan, maka misi mencerdaskan kehidupan bangsa tetap menemukan jalannya.
Pada akhirnya, personal branding dosen bukan tentang popularitas semata, tetapi tentang keberanian mengambil peran di zaman yang berubah. Dunia tidak menunggu kampus yang lambat beradaptasi. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah dosen perlu marketing dan personal branding, melainkan seberapa cepat dosen menyadari bahwa masa depan karir akademik dan keberlanjutan institusi sangat ditentukan oleh kemauan untuk berubah hari ini.
Oleh: Dr.H.Abid Muhtarom (Dekan FEB UNISLA dan wakil dewan pengupahan kabupaten Lamongan)
Dekan FEB Universitas Islam Lamongan (UNISLA)


