KlikSiber.com, BANDA ACEH— Kementerian Pertanian (Kementan) memperluas sinergi antara program pembibitan ternak dengan dunia akademik guna mendorong lahirnya riset dan inovasi yang dapat diterapkan dalam pengembangan peternakan. Kolaborasi tersebut diperkuat melalui kerja sama Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Indrapuri dengan Universitas Syiah Kuala (USK).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Perpanjangan kerja sama ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Dayat, dan Rektor USK, Prof. Mirza Tabrani, di Banda Aceh, Rabu (16/9/2026).

Pada kesempatan yang sama juga dilakukan penandatanganan Berita Acara Serah Terima Hibah Sapi Kementan kepada USK. Ternak tersebut akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan akademik, penelitian serta pengembangan teknologi peternakan di lingkungan perguruan tinggi.

Kolaborasi BPTU-HPT Indrapuri dan USK mencakup sejumlah bidang strategis, mulai dari peningkatan mutu akademik dan kualitas sumber daya manusia (SDM), penelitian dan pengembangan teknologi peternakan hingga pelestarian plasma nutfah lokal.

Kerja sama juga menyasar pengembangan agrostologi dan ketahanan pakan, pengabdian kepada masyarakat serta hilirisasi hasil penelitian dan inovasi.

Kepala BPTU-HPT Indrapuri, Dayat, mengatakan keterlibatan perguruan tinggi diperlukan agar hasil pembibitan dan pengembangan ternak dapat dimanfaatkan secara lebih luas. Menurut dia, hasil pembibitan tidak seharusnya hanya berhenti pada unit pelaksana pemerintah.

“Kerja sama dengan perguruan tinggi penting untuk memastikan hasil pembibitan dan pengembangan peternakan tidak berhenti di unit kerja, tetapi dapat dimanfaatkan untuk pendidikan, penelitian, inovasi, dan pengembangan peternakan di daerah,” ujar Dayat.

Perkuat Riset Peternakan yang Aplikatif

Kerja sama tersebut mempertemukan dua kekuatan dalam pengembangan sektor peternakan. BPTU-HPT Indrapuri memiliki peran dalam pembibitan serta pengembangan ternak unggul dan hijauan pakan ternak. Sementara USK memiliki kapasitas akademik dalam pendidikan, penelitian, inovasi dan pengembangan SDM.

Sinergi itu diharapkan dapat memperpendek jarak antara kegiatan pembibitan di lapangan dengan penelitian di perguruan tinggi. Dengan demikian, persoalan maupun potensi yang ditemukan dalam pengembangan ternak dapat menjadi bahan penelitian, sementara hasil riset kampus dapat diuji dan dimanfaatkan untuk mendukung sektor peternakan.

Hibah sapi dari Kementan kepada USK menjadi salah satu bagian konkret dari kolaborasi tersebut. Keberadaan ternak dapat dimanfaatkan mahasiswa dan peneliti sebagai sarana pembelajaran sekaligus objek penelitian untuk menghasilkan pengembangan teknologi yang lebih aplikatif.

Pemanfaatannya juga membuka ruang bagi peningkatan kompetensi mahasiswa dan tenaga akademik melalui kegiatan yang bersentuhan langsung dengan praktik peternakan.

Hasil penelitian selanjutnya diharapkan tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga dapat diterjemahkan menjadi inovasi maupun rekomendasi yang relevan bagi pengembangan peternakan di Aceh.

Jaga Plasma Nutfah dan Ketahanan Pakan

Aspek lain yang menjadi perhatian dalam kerja sama adalah pelestarian plasma nutfah lokal. Upaya tersebut penting untuk menjaga sumber daya genetik ternak yang memiliki karakteristik dan potensi untuk dikembangkan sesuai kondisi daerah.

Pengembangan agrostologi dan ketahanan pakan juga masuk dalam ruang lingkup kolaborasi. Ketersediaan pakan merupakan salah satu komponen penting dalam keberlanjutan usaha peternakan sehingga membutuhkan pengembangan sumber pakan yang produktif dan sesuai dengan kondisi wilayah.

Melalui dukungan penelitian perguruan tinggi dan pengalaman teknis BPTU-HPT Indrapuri, pengembangan pakan diharapkan dapat semakin berbasis ilmu pengetahuan dan kebutuhan lapangan.

Kolaborasi tersebut sekaligus membuka peluang hilirisasi hasil penelitian. Inovasi yang dihasilkan dari kampus diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga memberikan manfaat kepada peternak dan masyarakat.

Pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari kerja sama. Melalui skema ini, pengetahuan, teknologi dan hasil penelitian dapat ditransfer kepada peternak sehingga inovasi tidak berhenti di lingkungan akademik.

Bagi Kementan, kemitraan dengan perguruan tinggi menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat keterhubungan antara pembibitan, pendidikan, penelitian dan kebutuhan pembangunan peternakan.

Kolaborasi pemerintah dan perguruan tinggi tersebut diharapkan menghasilkan ekosistem pengembangan peternakan yang lebih terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit unggul, peningkatan kualitas SDM, pengembangan teknologi hingga penerapan inovasi di tingkat peternak.

Kementan juga terus mendorong perluasan kemitraan dengan perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan agar hasil pembibitan ternak unggul dapat dimanfaatkan secara optimal. Dengan dukungan riset dan inovasi, sektor peternakan diharapkan berkembang semakin produktif, adaptif dan berkelanjutan. (*)