KLIKSIBER.Com – Pemerintah Desa (Pemdes) Tambakrigadung, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menutup rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan malam resepsi pagelaran campursari, Jumat (28/8/2026) malam.
Pagelaran campursari menjadi puncak kegiatan Agustusan yang sebelumnya diisi dengan berbagai perlombaan olahraga dan seni. Warga dari berbagai kalangan hadir menikmati hiburan tradisional sekaligus memanfaatkan momentum tersebut untuk berkumpul dan mempererat silaturahmi.
Kepala Desa Tambakrigadung, M. Takim, mengatakan pagelaran campursari tidak hanya dimaksudkan sebagai hiburan penutup. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah desa mempertahankan tradisi dan budaya lokal di tengah perkembangan zaman.
“Peringatan kemerdekaan bukan hanya sekadar seremonial. Yang lebih penting adalah bagaimana momentum ini bisa mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga tradisi dan budaya yang kita miliki,” ujar M. Takim.
Menurut Takim, campursari dipilih karena memiliki daya tarik bagi masyarakat lintas generasi. Kesenian yang memadukan unsur musik tradisional Jawa dengan instrumen modern itu dinilai mampu menjadi hiburan yang dapat dinikmati anak muda maupun warga yang lebih tua.
“Campursari itu hiburannya tidak hanya untuk anak-anak muda, juga untuk orang tua. Jadi kita mendatangkan campursari, kesimpulannya bisa menghibur orang tua juga,” katanya.
Ia berharap kesenian tradisional seperti campursari tetap mendapat tempat di tengah masyarakat. Terlebih, generasi muda saat ini memiliki banyak pilihan hiburan modern yang berkembang seiring kemajuan teknologi.
Takim menilai pengenalan budaya kepada generasi muda perlu dilakukan secara langsung melalui kegiatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Dengan begitu, kesenian tradisional tidak hanya dikenal sebagai warisan masa lalu, tetapi tetap dapat berkembang dan dinikmati lintas generasi.
“Campursari ini bukan hanya hiburan. Kami ingin tradisi seperti ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya. Anak-anak muda juga perlu diberi ruang untuk mengenal dan mencintai budaya sendiri,” jelasnya.
Sebelum malam resepsi, Pemdes Tambakrigadung bersama masyarakat telah menggelar sejumlah kegiatan untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Berbagai perlombaan olahraga dan seni digelar dengan melibatkan warga. Di antaranya turnamen bulu tangkis, bola voli, hingga lomba paduan suara.
Turnamen bola voli berlangsung sekitar 10 hari dengan sistem setengah kompetisi. Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda yang mendapat perhatian dan antusiasme masyarakat.
“Alhamdulillah sejak awal itu bulu tangkis, kemudian bola voli itu maraton 10 hari, setengah kompetisi. Kemudian terakhir itu lomba paduan suara dan semuanya semangat,” ungkap Takim.
Tidak hanya pertandingan olahraga, lomba paduan suara juga menjadi ruang bagi warga untuk menunjukkan kreativitas. Sejumlah kelompok dari lingkungan perumahan dan berbagai blok ikut ambil bagian.
Dalam lomba tersebut, kelompok warga dari Perumahan Tambora berhasil meraih juara. Tingginya partisipasi warga menunjukkan bahwa perayaan Agustusan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi wadah interaksi dan kebersamaan.
Takim mengapresiasi dukungan masyarakat sejak awal hingga seluruh rangkaian kegiatan berakhir. Menurutnya, kelancaran berbagai agenda tersebut tidak lepas dari semangat gotong royong warga.
“Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan bisa berjalan dengan baik karena dukungan masyarakat. Ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong dan kebersamaan di Tambakrigadung masih sangat kuat,” ungkapnya.
Menurut Takim, kebersamaan yang tercipta selama perayaan kemerdekaan harus terus dibawa ke kehidupan sehari-hari. Ia tidak ingin semangat gotong royong hanya muncul ketika masyarakat menggelar kegiatan Agustusan.
“Setelah Agustusan selesai, jangan sampai semangat kebersamaan juga ikut selesai. Justru semangat gotong royong ini harus kita bawa dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam mendukung pembangunan desa,” tegasnya.
Ia berharap kegiatan masyarakat yang melibatkan banyak unsur warga dapat terus dikembangkan. Selain memperkuat hubungan sosial, kegiatan tersebut juga dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas dan mengembangkan potensi lokal.
Pagelaran campursari kemudian menjadi penutup seluruh rangkaian perayaan. Sejumlah lagu bernuansa Jawa dibawakan dalam suasana meriah dan akrab. Warga dari berbagai usia tampak menikmati pertunjukan hingga acara berlangsung.
Bagi Pemdes Tambakrigadung, malam resepsi tersebut menjadi gambaran bahwa seni tradisional masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Campursari menjadi ruang perjumpaan lintas generasi, sementara rangkaian perlombaan sebelumnya telah mempertemukan warga dalam suasana kompetitif sekaligus penuh kekeluargaan.
Takim berharap semangat guyub rukun tersebut dapat terus dipertahankan setelah perayaan kemerdekaan berakhir.
“Harapan saya dengan adanya seperti ini masyarakat itu bisa guyup rukun, dan alhamdulillah sangat kita harapkan karena kerukunan, kebersamaan, kegotongroyongan ini adalah merupakan simbol desa itu menjadi desa yang bersatu,” pungkasnya.


