KlikSiber.com – Bulan suci Ramadan membawa dampak positif bagi geliat industri rumahan songkok di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Salah satu sentra produksi terbesar berada di Desa Pengangsalan, Kecamatan Kalitengah, yang dikenal sebagai kampung songkok. Memasuki pertengahan Ramadan, aktivitas produksi di desa ini meningkat tajam seiring melonjaknya permintaan pasar.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sejak pagi hingga larut malam, suara mesin jahit terdengar hampir tanpa henti dari rumah-rumah produksi. Para pengrajin bekerja ekstra demi memenuhi pesanan yang datang dari berbagai daerah. Kesibukan ini menjadi pemandangan rutin setiap Ramadan, ketika kebutuhan masyarakat terhadap perlengkapan ibadah, termasuk songkok, meningkat signifikan.

Ahmad Rohman, salah satu pengrajin songkok di Desa Pengangsalan, mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan pada Ramadan tahun ini mencapai hampir tiga kali lipat dibanding bulan biasa.

Jika sebelumnya satu rumah produksi hanya mampu mengirim sekitar 3.000 kodi per bulan, kini pesanan menembus angka 9.000 kodi. Kondisi tersebut membuat para pengrajin harus menambah jam kerja serta merekrut tenaga lepas dari warga sekitar.

“Permintaan memang selalu naik saat Ramadan, tetapi tahun ini peningkatannya cukup signifikan. Kami terpaksa menambah pekerja dan memberlakukan lembur agar pesanan bisa dikirim tepat waktu,” ujar Ahmad.

Lonjakan produksi ini membawa dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat setempat. Tidak hanya pengrajin utama, puluhan warga lainnya ikut terlibat dalam proses produksi, mulai dari pemotongan bahan, penjahitan, hingga tahap finishing dan pengemasan. Dengan demikian, perputaran ekonomi desa meningkat dan kesejahteraan warga ikut terangkat.

Meski dikejar target produksi, para pengrajin tetap menjaga kualitas. Bahan beludru premium serta jahitan rapi menjadi standar utama agar produk tetap nyaman dipakai, terutama saat digunakan beribadah dalam waktu lama. Menurut Ahmad, menjaga mutu menjadi kunci mempertahankan kepercayaan pelanggan.

“Songkok harus nyaman, awet, dan tampil rapi. Kami tidak mengurangi kualitas meski pesanan sedang membludak,” tegasnya.

Untuk harga, songkok produksi Desa Pengangsalan dibanderol mulai Rp40.000 hingga Rp100.000 per buah, tergantung bahan dan tingkat kerumitan motif. Produk ini tidak hanya dipasarkan di wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, dan Malang, tetapi juga menjangkau Jakarta, Bandung, hingga sejumlah daerah di luar Pulau Jawa. Seiring berkembangnya teknologi, sebagian pengrajin juga memanfaatkan platform digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.

Bagi warga Desa Pengangsalan, Ramadan bukan sekadar momentum meningkatkan produksi, tetapi juga ajang melestarikan tradisi kerajinan songkok yang telah diwariskan secara turun-temurun. Keuletan dan kekompakan warga dalam mengelola industri rumahan ini menjadikan desa tersebut sebagai salah satu ikon sentra songkok unggulan di Lamongan.

Dengan permintaan yang terus meningkat dari tahun ke tahun, para pengrajin berharap adanya dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah, baik dalam bentuk pelatihan, permodalan, maupun promosi.

Dukungan tersebut dinilai penting agar industri songkok Lamongan mampu berkembang lebih pesat dan bersaing di pasar nasional bahkan internasional.