KlikSiber.com – Upaya pemerintah memperkuat kemandirian ekonomi keluarga prasejahtera terus digencarkan. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyalurkan bantuan pemberdayaan berupa kandang dan ayam petelur kepada puluhan Keluarga Penerima Manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Sembako di Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (14/2/2026).
Penyaluran bantuan ini menjadi bagian dari strategi nasional pengentasan kemiskinan yang menitikberatkan pada penguatan usaha produktif berbasis rumah tangga. Program tersebut digagas sebagai langkah konkret untuk mendorong KPM bertransformasi dari penerima bantuan sosial menjadi pelaku ekonomi mandiri.
Gus Ipul menjelaskan, program pemberdayaan ini merupakan kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, melibatkan Kementerian Sosial, Kementerian Koperasi dan UKM, Badan Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (BP Taskin), serta dukungan dunia usaha. Sinergi ini bertujuan menciptakan sistem pendampingan berkelanjutan bagi KPM agar memiliki sumber penghasilan tetap.
“Bantuan ini bukan sekadar untuk hari ini, tetapi dirancang agar memberikan manfaat jangka panjang. Kami ingin keluarga penerima mampu berdiri di atas kaki sendiri, memiliki usaha produktif, dan perlahan keluar dari ketergantungan terhadap bantuan sosial,” kata Gus Ipul.
Bantuan diserahkan secara simbolis kepada Kelompok Masyarakat (Pokmas) Dukuhrejo Sejahtera yang menaungi 70 KPM. Seluruh anggota kelompok tersebut akan diarahkan bergabung dalam Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Dukuhrejo guna memperkuat sistem produksi, distribusi, serta pemasaran hasil ternak.
Setiap KPM memperoleh satu unit kandang lengkap dengan 24 ekor ayam petelur usia produktif, yakni sekitar 14 minggu. Selain itu, mereka juga dibekali pakan sebanyak 50 kilogram serta vitamin untuk menunjang kesehatan ternak. Total nilai bantuan per paket mencapai sekitar Rp5,7 juta.
Dengan jumlah ayam tersebut, setiap keluarga diperkirakan mampu memproduksi rata-rata 1,5 kilogram telur per hari. Sebanyak 1 kilogram diarahkan untuk dipasarkan melalui koperasi desa, sementara sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan pendapatan rumah tangga, tetapi juga berkontribusi pada perbaikan kualitas gizi, terutama bagi anak-anak dan ibu hamil. Melalui skema koperasi, pemasaran telur diharapkan berjalan lebih terorganisasi, memberikan nilai tambah, serta memperluas akses pasar.
Gus Ipul menambahkan, keberhasilan program ini akan menjadi model nasional dalam pengembangan bantuan sosial berbasis pemberdayaan. Pemerintah menargetkan semakin banyak KPM yang mampu melakukan graduasi mandiri, sehingga anggaran bantuan sosial dapat dialihkan kepada kelompok masyarakat yang lebih membutuhkan.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan masyarakat yang produktif, berdaya, dan sejahtera. Dengan langkah-langkah konkret seperti ini, kami optimistis target pengentasan kemiskinan dapat tercapai lebih cepat,” pungkasnya.


