KlikSiber.com — Menjelang perayaan tradisi Malam Selawe Ramadan, para petambak di wilayah pesisir Kabupaten Gresik mulai bersiap menghadapi salah satu agenda budaya paling dinanti masyarakat, yakni Kontes Bandeng Kawak Gresik.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Tradisi tahunan tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga simbol kejayaan sektor perikanan bandeng yang telah lama menjadi identitas daerah pesisir di Jawa Timur.

Salah satu petambak yang kembali mencuri perhatian menjelang kontes tahun ini adalah Syaifullah Mahdi, warga Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah. Namanya dikenal luas setelah berhasil meraih juara pertama dalam Kontes Bandeng Kawak tahun 2025 dengan menghadirkan bandeng raksasa yang memukau dewan juri dan masyarakat.

Bandeng milik Syaifullah pada tahun lalu memiliki bobot mencapai 14,6 kilogram dengan panjang sekitar 109 sentimeter. Ikan tersebut dipelihara secara khusus selama kurang lebih 16 tahun di tambak miliknya sebelum akhirnya diikutkan dalam kontes.

Keistimewaan bandeng kawak itu tidak hanya berhenti pada kemenangan di panggung kontes. Dalam sesi lelang yang menjadi bagian dari rangkaian acara, bandeng raksasa tersebut berhasil terjual dengan harga fantastis mencapai Rp50 juta. Nilai tersebut sekaligus menjadikannya salah satu bandeng kawak dengan harga lelang tertinggi pada penyelenggaraan kontes tahun lalu.

Menjelang pelaksanaan Kontes Bandeng Kawak Gresik tahun ini, Syaifullah mengaku telah menyiapkan sejumlah bandeng pilihan yang dipelihara secara khusus di tambak miliknya. Ia memiliki area tambak seluas sekitar empat hektare yang memang diperuntukkan bagi bandeng-bandeng yang diproyeksikan mengikuti kontes.

“Tambak ini khusus untuk memelihara bandeng calon kontes. Perawatannya berbeda dengan bandeng konsumsi biasa karena membutuhkan waktu pemeliharaan yang jauh lebih lama,” ujarnya.

Menurut Syaifullah, memelihara bandeng hingga mencapai ukuran kawak atau berukuran raksasa membutuhkan kesabaran serta ketelatenan. Para petambak harus menjaga kualitas air tambak, memastikan ketersediaan pakan alami, serta menghindari gangguan yang dapat memengaruhi pertumbuhan ikan.

Bandeng kawak sendiri biasanya dipelihara selama bertahun-tahun hingga mencapai ukuran yang jauh lebih besar dibandingkan bandeng pada umumnya. Tidak sedikit petambak yang rela merawat ikan tersebut selama lebih dari satu dekade demi bisa menampilkan hasil terbaik dalam kontes.

Sementara itu, tradisi Kontes Bandeng Kawak Gresik telah menjadi bagian tak terpisahkan dari rangkaian perayaan Malam Selawe Ramadan di Gresik. Kegiatan ini digelar setiap tahun menjelang malam ke-25 Ramadan dan selalu menarik perhatian masyarakat, baik dari dalam maupun luar daerah.

Selain kontes ukuran bandeng, acara tersebut juga biasanya diramaikan dengan pasar rakyat, pameran produk perikanan, hingga lelang bandeng kawak yang kerap menghasilkan nilai transaksi tinggi.

Bagi para petambak di wilayah pesisir Gresik, ajang ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga menjadi bentuk kebanggaan sekaligus kesempatan untuk menunjukkan kualitas hasil budidaya mereka kepada masyarakat luas.

Dengan pengalaman dan keberhasilannya pada tahun sebelumnya, Syaifullah berharap bandeng yang dipersiapkannya tahun ini mampu kembali tampil maksimal. Meski demikian, ia menegaskan bahwa yang terpenting adalah menjaga tradisi serta semangat kebersamaan di antara para petambak.

“Yang utama adalah tradisinya tetap hidup dan petambak bisa terus menunjukkan hasil terbaiknya,” katanya.