KlikSiber.com — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau progres revitalisasi Benteng Fort Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa, situs cagar budaya abad ke-19 yang kini tengah ditata oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Penataan tahap pertama dilakukan melalui Satker Pelaksanaan Prasarana Permukiman Wilayah II Provinsi Jawa Tengah.
Revitalisasi mencakup pemugaran bangunan utama benteng dengan luasan lebih dari 10.392 m², peningkatan akses jalan kawasan, penataan area parkir, lansekap, infrastruktur kawasan, hingga jaringan utilitas untuk mendukung kenyamanan pengunjung. Total kawasan yang direvitalisasi mencapai 2,7 hektare.
Setelah melakukan peninjauan langsung, Menko AHY menyampaikan bahwa tampilan Benteng Fort Willem I kini semakin tertata dan memiliki daya tarik tinggi sebagai kawasan wisata sejarah. Ia menilai arsitektur bangunan kolonial yang memadukan unsur bata, besi, dan kayu memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata budaya kelas nasional.
“Benteng ini memiliki nilai sejarah yang luar biasa. Kita ingin revitalisasi ini bukan hanya menjaga bangunan cagar budaya, tetapi juga meningkatkan nilai tambah bagi masyarakat melalui pariwisata,” ujar AHY.
AHY menegaskan bahwa pemerintah mendorong pengelolaan kawasan benteng secara berkelanjutan agar manfaat revitalisasi tidak berhenti pada aspek fisik, tetapi mampu menciptakan peluang ekonomi, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Dalam kunjungan tersebut hadir Dirjen Cipta Karya Dewi Chomistriana; Danrem 073/Makutarama Kolonel Arm. Ezra Nathanael; Kabalai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan Jawa Tengah Nanda Lasro Elisabet Sirait; Direktur Utama The Lawu Park Parmin Sastrowidjono; dan GM Corporate The Lawu Park Achmad Ridho. Menko AHY didampingi Deputi Nazib Faizal serta Staf Khusus Menko Jovan Latuconsina.
Melalui revitalisasi benteng bersejarah ini, pemerintah berharap Ambarawa semakin dikenal sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah, sehingga mampu memperkuat perekonomian daerah sekaligus melestarikan warisan arsitektur kolonial.


