KlikSiber.com – Harga minyak mentah dunia melonjak tajam sejak pembukaan perdagangan Senin (3/3/2026), menyusul meningkatnya eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Lonjakan ini terjadi setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu kekhawatiran serius atas gangguan pasokan energi global.
Di pasar internasional, minyak mentah acuan Brent Crude tercatat diperdagangkan di kisaran Rp1.280.000 per barel, setelah sempat menembus Rp1.312.000 dalam sesi perdagangan Asia. Kenaikan signifikan ini mencerminkan respons cepat investor terhadap risiko geopolitik yang berpotensi mengganggu distribusi energi dari kawasan penghasil utama dunia.
Sementara itu, minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI), juga mengalami kenaikan tajam sebesar 7,5% dan diperdagangkan di level sekitar Rp1.144.800 per barel. Secara keseluruhan, Brent tercatat melonjak 9,4% dibandingkan penutupan sebelumnya, menunjukkan tekanan kuat di pasar energi global.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada minyak mentah. Pasar gas alam Eropa turut mengalami gejolak hebat. Harga kontrak berjangka TTF—patokan gas utama Eropa—melonjak lebih dari 48% menjadi sekitar Rp850.000 per MWh, level tertinggi sejak Februari 2025. Lonjakan ini terjadi setelah QatarEnergy mengumumkan penangguhan sementara produksi LNG akibat meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut.
Analis pasar menilai, ketegangan yang terus berlanjut berpotensi memperburuk volatilitas harga energi global. Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan terganggunya jalur distribusi strategis di Selat Hormuz. Jalur perairan ini menjadi lintasan hampir 20 juta barel minyak mentah dan produk olahan setiap hari, atau sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dunia.
Gangguan sekecil apa pun di selat tersebut dapat berdampak sistemik terhadap rantai pasokan global. Jika konflik semakin meluas dan menghambat lalu lintas kapal tanker, harga Brent diproyeksikan dapat menembus Rp1.600.000 per barel dalam waktu dekat.
Konsultan energi global Wood Mackenzie memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat mendorong lonjakan harga yang lebih drastis. Risiko tidak hanya terbatas pada fluktuasi jangka pendek, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan inflasi global dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Data terbaru dari International Energy Agency (IEA) tahun 2026 menunjukkan bahwa gangguan pasokan sebesar 5% dari kawasan Timur Tengah saja dapat memicu kenaikan harga minyak global sebesar 30–40%. Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa dampak konflik tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.
Pelaku pasar kini menanti perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah. Jika ketegangan tidak segera mereda, volatilitas harga minyak dan gas diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.


