KlikSiber.com, JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kompetensi petugas pengambil sampel untuk memastikan mutu benih dan bibit ternak teruji secara akurat. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kesalahan pengujian yang berpotensi memengaruhi proses evaluasi hingga keputusan sertifikasi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penguatan kompetensi tersebut dilakukan melalui pelatihan Petugas Pengambil Contoh (PPC) Lembaga Sertifikasi Produk (LSPro) Benih dan Bibit Ternak yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerja sama dengan Mutu Institute pada 13–14 Oktober 2026 di Jakarta.

Pelatihan ini menitikberatkan pada peningkatan keterampilan petugas dalam mengambil, menangani, dan mendokumentasikan sampel sesuai prosedur. Ketepatan setiap tahapan menjadi faktor penting agar sampel yang diuji benar-benar mewakili kondisi objek yang dinilai.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, menegaskan bahwa keandalan sertifikasi sangat bergantung pada kualitas data yang dihasilkan dari proses pengujian. Karena itu, pengambilan sampel tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

“Kesalahan dalam pengambilan contoh dapat memengaruhi hasil pengujian, evaluasi kesesuaian, bahkan keputusan sertifikasi,” tegas Hary, Rabu (14/10/2026).

Menurut Hary, petugas pengambil contoh memiliki peran strategis dalam menjaga kredibilitas proses sertifikasi benih dan bibit ternak. Sampel yang tidak representatif berisiko menghasilkan data yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya sehingga dapat memengaruhi penilaian terhadap mutu produk.

Selain menguasai teknik pengambilan sampel, petugas juga dituntut menjaga objektivitas dan integritas selama menjalankan tugas. Ketertelusuran sampel, mulai dari asal pengambilan hingga penanganannya, harus diperhatikan agar setiap hasil pengujian memiliki dasar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Manajer Puncak LSPro Benih dan Bibit Ternak, Gito Haryanto, mengatakan peningkatan kemampuan petugas perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemahaman terhadap standar dan prosedur harus disertai keterampilan praktik agar penerapannya di lapangan berjalan konsisten.

Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi sekaligus praktik mengenai perencanaan pengambilan sampel, penerapan teknik sampling yang tepat, pemeliharaan kondisi sampel, serta pencatatan dan dokumentasi yang mendukung proses pengujian. Materi disampaikan bersama narasumber dari Mutu Institute, Diana Widiastuti.

Melalui pelatihan ini, Kementan mendorong peningkatan profesionalisme petugas sebagai bagian dari upaya memperkuat sistem sertifikasi benih dan bibit ternak. Proses pengambilan sampel yang tepat diharapkan dapat mendukung tersedianya hasil pengujian yang lebih andal dan menjadi landasan pengambilan keputusan sertifikasi.

Bagi peternak dan pelaku usaha, kepastian mutu benih dan bibit ternak merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung produktivitas usaha. Dengan sistem pengujian dan sertifikasi yang kredibel, kepercayaan terhadap mutu produk peternakan diharapkan semakin kuat.

Penguatan kompetensi petugas tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya mendukung pengembangan usaha peternakan yang berkualitas, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)